Mimbar Masjid di Bengkulu

Mimbar Masjid di Bengkulu

Mimbar Masjid di Bengkulu

Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan, tradisi antropologi untuk mengkaji agama, terutama abad ke 16 dan 17, berkembang dengan pesat. Evans-Pritchard, salah seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris, mengatakan bahwa dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri. Evans Pritchard terhadap antropologi dan agama berbeda dengan tiga teori besar saat itu yaitu antropologi victorian, sosiologi perancis, dan empirisme inggris. Ia berpendapat bahwa seorang antropolog masjid tidak seharusnya bekerja di belakang meja atau tumpukan buku perpustakaan, melainkan terjun langsung ke lapangan. Seorang antropolog seharusnya terjun sepenuhnya dalam suatu budaya, mengamati tidak saja agama, hukum, kekerabatan, ekonomi, atau struktur masyarakat, tapi harus mempelajarinya sebagai satu kesatuan yang utuh. Hal ini pernah ia rasakan, misalnya, ketika menulis tentang perjuangan masjid para Sufi di Cyrenica Libia melawan penjajahan Italia, dimana ia merasa kesulitan untuk menjelaskan mimbar masjid fenomena ketaatan pengikut Sufi kepada guru Sufi mereka. Tak dapat disangkal bahwa kemudian Evans-Pritchard dapat menggambarkan fenomena Sufi di Cyrenica dengan penuh empati.

Pandangannya yang demikianlah yang akhirnya membawanya kepada suku pedalaman Sudan yakni suku Azande dan suku Nuer untuk emlakukan penelitian secara mendalam sebagai seorang antropolog. Penelitiannya ini membawanya menulis banyak artikel dan buku-bukunya yang berkualitas seperti Wictcraft,Oracles,and Magic among the Azande, dan The Nuer:A Description of the Modes of Livinghood and Politican Institusion of a Nilotic people. Dia tidak hanya berfungsi sebagai dasar hukum, tetapi juga membentuk sistem moral masyarakat dan meletakkan dasar-dasar kehidupan sosial masyrakat Azande.
Agama Nuer hampir sepenuhnya berpegang pada konsep kwoth atau roh-roh masjid. Hal utama dalam pemikiran mereka adalah Tuhan, otoritas ilahi yang mereka sebut dengan kwoth nhial, roh yang berada di langit. Dialah yang menetukan cuong atau system moral yang baik dan benar. Masyarakat Nuer juga percaya pada roh yang berada di udara cwit dan roh yang berada di bawah kuth-kuth, roh-roh yang bekerja bersama hidup mereka di dunia.
Dalam penelitiannya di Azande, Evans Pritchard mengamati bagaimana fenomena tenung mengakar dalam sistem budaya Azande. Segala kejadian hidup sehari-hari, bencana yang terjadi, kesialan-kesialan, dan sakit penyakit selalu dikaitkan dengan tenung. Budaya tenung disamping berfungsi sebagai sumber informasi tentang ketidak-beruntungan yang menimpa mereka di masjid Bengkulu, tenungan dan hal-hal magis lain juga berfungsi sebagai kekuatan social. Roh-roh totem dan cwit, menurut Evans Pritchard adalah bentuk refleksi dari kepercayaan dasar mereka tentang keilahian. Ini menunjukan bagaiman sebuah kepercayaan dasar membentuk sebuah tatanan religi yang lebih luas, seperti juga tenung di Azande yang telah masuk dalam tatanan sosial dan hukum mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *