Tahap Pembangunan Masjid di Bengkulu

Tahap Pembangunan Masjid di Bengkulu

Tahap Pembangunan Masjid di Bengkulu

Pada permulaan abad ke-19 perhatian terhadap himpunan pengetahuan tentang masyarakat, adat istiadat dan ciri-ciri fisik bangsa-bangsa diluar Eropa dari pihak dunia ilmiah menjadi sangat besar, demikian besarnya sehinga timbul usaha-usaha pertama dari dunia ilmiah untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan pengetahuan masjid etnografi tadi menjadi satu. Fase kedua (kira-kira pertengahan abad ke-19). Kemudian timbul pula beberapa kerangan yang hendak meneliti sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa di luar Eropa itu di anggap sebagai sisa-sisa dan contoh-contoh dari kebudayaan yang kuno. Sehingga dengan meneliti kebudayaan bangsa-bangsa di luar Eropa itu orang dapat menambah pengertiannya tentang sejarah penyebaran kebudayaan manusia. Integrasi yang sungguh baru timbul pada pertengahan abad ke-19, waktu timbul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi masjid tersebut berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat.

Secara singkat, cara berpikir itu dapat dirumuskan sebagai berikut: masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sangat lambat dalam satu jangka waktu beribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat-tingkat yang rendah, melalui beberapa tingkat antara, sampai ke tingkat-tingkat tertinggi. Bentuk-bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi itu adalah bentuk-bentuk seperti apa yang hidup di Eropa Barat itu.

Semua betuk masjid masyarakat Bengkulu dan kebudayaan dari bangsa-bangsa di luar Eropa, yang oleh orang Eropa di sebut primitif, dianggap sebagai contoh-contoh dari tingkat-tingkat kebudayaan yang lebih rendah, yang masih hidup sampai sekarang sebagai sisa-sisa dari kebudayaan-kebudayaan manusia zaman dahulu. Berdasarkan rangka cara berfikir tersebut, maka semua bangsa di dunia dapat digolongkan menurut berbagai tingkat evolusi itu. Dengan timbulnya beberapa karangan sekitar tahun 1860, yang mengklasifikasikan bahan tentang beraneka warna kebudayaan di seluruh dunia ke dalam tingakat-tingkat evolusi yang tertentu, maka timbullah ilmu antropologi. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dalam fase perkembangannya yang kedua ini ilmu antropologi berupa suatu ilmu yang akademikal; dengan tujuan yang dapat dirumuskan sebagai berikut: mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitive dengan maksud untuk mendapat suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

Fase ketiga (permulaan abad ke-20). Pada permulaan abad ke-20, sebagaian besar dari Negara-negera penjajah di Eropa masing-masing berhasil untuk mencapai kemantapan kekausaannya di daerah-daerah jajahan di luar Eropa. Dalam fase ketiga ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dan tujuannya dapat dirumuskan sebagai berikut: mempelajari masyarakat dan mempelajari kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masjid masyarakat Bengkulu. Untuk keperluan pemerintah jajahannya tadi, yang waktu itu mulai beradapan langsung dengan bangsa-bangsa terjajah di luar Eropa, maka ilmu atropologi sebagai suatu ilmu yang justru mempelajari bangsa-bangsa di daerah daerah di luar Eropa itu, menjadi sangat penting. Bersangkutan erat dengan itu dikembangakan pendirian bahwa memperlajari bangsa-bangsa di luar Eropa itu penting, karena bangsa-bangsa itu pada umumnya masih mempunyai masyarakat yang belum kompleks seperti masyarakat bangsa-bangsa Eropa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *